Sosiologi Kamanto

BAB 1
SEJARAH PERKEMBANGAN SOSIOLOGI

Peter Berger memiliki argumentasi bahwa pemikiran sosiologis berkembang saat masyarakat menghadapi ancaman terhadap hal-hal yang selama ini dianggap sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya demikian, benar, nyata.sosiologi
tokoh-tokoh pemuka pemikiran sosiologi, yakni Saint-Simon, Comte, Spencer, Durkheim, Weber, Simmel, Marx, Sorokon, Mead, Cooley, Thomas, Goffmans, Homans, Thibaut dan Kelly, Mannheim, Blau, Parsons, Mertons, Mills, Dahrendorf, Coser, dan Collons. Antara pemikiran para perintis awal dan para tokoh sosiologi masa kini terdapat suatu kesinambungan. Sebagian besar konsep dan teori sosiologi pada masa kini berakar pada sumbangan pikiran para tokoh klasik.

Para ahli akan cenderung sepaham bahwa Comte, Spencer, Durkheim, Marx, dan Webber merupakan perintis sosiologi. Comte dianggap sebagai perintis positivisme. Sumbangan pikiran lain yang diberikan Comte adalah pembagian sosiologi ke dalam dua bagian besar : statika sosial dan dinamika sosial.
Sumbangan utama Marx bagi sosiologi terletak pada teorinya mengenai kelas. Menurut Marx perkembangan kapitalisme menumbuhkan dua kelas yang berbeda : bourgeoisie dan kaum proletar. Dalam konflik yang berlangsung pada kedua kelas kaum bourgeoisie akan dikalahkan. Marx meramalkan bahwa kaum proletar kemudian akan mendirikan suatu masyarakat tanpa kelas.

Buku The Division of Labor in Society merupakan suatu upaya Durkheim untuk memahami fungsi pembagian kerja serta untuk mengetahui faktor-faktor penyebabnya. Durkheim melihat bahwa setiap masyarakat manusia memerlukan solidaritas. Ia membedakan antara dua tipe utama solidaritas: solidaritas mekanis, dan solidaritas organis. Lambat laun pembagian kerja dalam masyarakat semakin berkembang sehingga solidaritas mekanis berubah menjadi solidaritas organis.
Dalam buku Rules of Sociologycal Method Durkheim menawarakan definisinya mengenai sosiologi. Menurut Durkheim, bidang yang harus dipelajari sosiologi adalah fakta-fakta sosial.
Buku Suicide merupakan upaya Durkheim untuk menerapkan metode yang telah dirintisnya untuk menjelaskan sebab-sebab terjadinya bunuh diri. Usahanya dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisa data kuantitatif.
Weber merupakan seorang ilmuan yang sangat produktif. Salah satu bukunya yang terkenal adalah The Protestan Ethic and The Spirit Capitalism. Dalam buku ini ia mengemukakan tesisnya yang terkenal mengenai keterkaitan antara Etika Protestan dengan munculnya Kapitalisme di Eropa Barat.
Weber menyebutkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan sosial. Sumbangan Weber yang tidak kalah pentingnya adalah kajian mengenai konsep-konsep dasar dalam sosiologi.

BAB 2
POKOK PEMBAHASAN SOSIOLOGI

Menurut Durkheim sosiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari fakta sosial. Durkheim berpendapat bahwa fakta sosial ialah cara-cara bertindak, berfikir, dan berperasaan , yang berada di luar individu, dan mempunyai kekuatan memaksa yang mengendalikannya.
Sedangkan menurut Weber sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tindakan sosial. Karena sosiologi bertujuan memahami mengapa tindakan ssosial mempunyai arah dan akibat tertentu, sedangkan tiap tindakan mempunyai makna subjektif bagi pelakunya, maka ahli sosiologi harus dapat membayangkan dirinya di tempat pelaku agar dapat ikut menghayati pengalamannya.
Mills memiliki pandangan bahwa manusia memerlukan khayalan sosiologis untuk dapat memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya. Untuk melakukannya diperlukan dua peralatan pokok: apa yang dinamakan personal troubles of milieu dan public issues of social structure.
Berger mengajukan sebagai citra yang melekat pada ahli sosiologi, yaitu sebagai seseorang yang suka bekerja dengan orang lain, menolong orang lain, melakukan sesuatu untuk oarng lain,misalnya seseorang teoritikus di bidang pekerjaan sosial, seseorang yang melakukan reformasi sosial, seseorang yang pekerjaannya mengumpulkan data statistic mengenai perilaku manusia, orang yang mencurahkan perhatiannya pada pengembangan metodologi ilmiah untuk dipakai dalam mempelajari fenomena manusia, dan seorang pengamat yang memelihara jarak (seorang manipulator manusia). Berger mengemukakan bahwa berbagai citra yang dianut oleh orang tersebut tidak tepat, keliru, dan menyesatkan.
Menurut Berger seorang ahli sosiologi bertujuan memahami masyarakat. Berger berpendapat bahwa daya tarik sosiologi terletak pada kenyataan bahwa sudut pandang sosiologi memungkinkan kita untuk memperoleh gambaran lain mengenai dunia yang telah lama kita tempati sepanjang hidup kita.
Suatu konsep lain yang disoroti Berger adalah konsep ”masalah sosiologis”. Menurut Berger suatu masalah sosiologi tidak sama dengan suatu masalah sosial; masalah sosiologis menyangkut pemahaman terhadap interaksi sosial.
Sejumlah ahli sosiologi mengklasifikasikan pokok bahasan sosiologi ke dalam dua bagian, namun ada pula yang membagi ke dalam tiga bagian. Selznick dan Broom membedakan antara tatanan makro dan tatanan mikro, Douglas membedakan antara perspektif makrososial dengan perspektif mikrososial, Jhonson membedakan antara jejang makro dan jenjang mikro, dan Collins membedakan antara sosiologi makro dan sosiologi mikro. Lenski mengemukakan bahwa dalam sosiologi terdapat tiga jenjang analisa: sosiologi mikro, sosiologi meso, dan sosiologi makro. Inteleks pun melihat bahwa sosiologi mempunyai tiga pokok bahasan yang khas, yaitu hubungan sosial, institusi, dan masyarakat.

BAB 3
SOSIALISASI

Menurut Berger manusia merupakan makhluk tak berdaya karena dilengkapi dengan naluri yang relatif tidak lengkap. Oleh sebab itu manusia mengembangkan kebudayaan untuk mengisi kekosongan yang tidak diisi oleh naluri.
Sejumlah tokoh sosiolog berpandangan bahwa yang diajarkan melalui sosialisasi adalah peranan-peranan. Oleh sebab itu berbagai teori sosialisasi merupakan teori mengenai peranan.
Dalam teori Mead diri manusia berkembang secara bertahap melalui interaksi dengan anggota masyarakat lain. Menurut Mead mengembangkan diri manusia ini berlangsung melalui tahap-tahap play stage, tahap game stage, dan tahap generalized other.
Mead berpandangan bahwa setiap anggota baru masyarakat harus mempelajari peranan-peranan yang ada dalam masyarakat – suatu proses yang dinamakan pengambilan peranan. Dalam proses ini seseorng belajar ntuk mengetahui peranan yang harus dijalankannya serta peranan yang harus dijalankan orang lain. Menurut Cooley konsep diri seseorang berkembang menlalui interaksinya dengan orang lain. Diri yang berkembang melalui imteraksi dengan orang lain ini diberinya nama looking-glass self, yang menurutnya terbentuk melalui tiga tahap.
Kemampuan seseorang untuk mempunyai diri teragntung pada sosialisasi. Oleh karenanya seseorang yang tidak mengalami sosialisasi tidak akan dapat berinteraksi dengan orang lain.
Dalam sosiologi kita membicarakan mengenai agen-agen sosialisasi. Fulter dan Jacobs mengidentifikasikan lima agen sosialisasi utama: keluarga, kelompok bermain, media massa, dan sistem pendidikan.
Pesan-pesan yang disampaikan berbagai agen sosialisasi tidak selamanya sepadan maka sosialisasi diharapkan dapat berjalan relatif lancar. Namun apabila pesan berbagai agen sosialisasi saling bertentangan maka warga masyarakat cenderung mengalami konflik pribadi.
Sosialisasi merupakan suatu proses yang berlangsung sepanjang hidup manusia. Para ahli berbicara mengenai sosialisasi setelah masa kanak-kanak, pendidikan sepanjang hidup, atau pendidikan berkesinambungan.
Setelah sosialisasi primer kita menjumpai sosialisasi sekunder. Sosialisasi antisipatoris merupakan suatu bentuk sosialisasi sekunder yang mempersiapkan seseorang untuk peranan yang baru.
Salah satu bentuk sosialisasi sekunder yang sering dijumpai dalam masyarakat ialah proses sosialisasi yang didahului dengan proses desosialisasi. Kedua proses ini sering dikaitkan dengan proses yang berlangsung pada institusi total. Suatu bentuk desosialisasi dan resosialisasi yang banyak dibahas di kalangan ilmuwan sosial praktik cuci otak.
Menurut Jaeger sosialisasi dengan cara represi menekankan pada penggunaan hukuman terhadap kesalahan, sedangkan sosialisasi denga cara partisipasi merupakan pola yang di dalamnya anak diberi imbalan apabila berperilaku baik.

BAB 4
INTERAKSI SOSIAL

Di antara berbagai pendekatan yang digunakan untuk mempelajari interaksi sosial, dijumpai pendekatan interaksionisme simbolis. Pendekatan ini bersumber pada pemikiran Mead.
Symbol merupakan sesuatu yang ni;ai atau maknanya diberikan kepadanya oleh orang yang memperggunaknnya. Makna atau nilai tersebut hanya dapat ditangkap melalui cara-cara non-sensoris.
Menurut Blumer pokok pikiran interaksionisme ada tiga: manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dipunyai sesuatu tersebut baginya, makna yang dipunyai tersebut berasal atau muncul dari hasil interaksi sosial antara seseorang dengan sesamanya, dan makna diperlakukan atau diubah melalui suatu proses penafsiran, yang digunakan orang dalam menghadapi sesuatu yang dijumpainya.
Thomas dikenal dengan ungkapannya bahwa bila oran gmendefinisan situasi sebagai hal yang nyata, maka konsekuensinya nyata. Yang dimaksudkannya di sini ialah bahwa definisi situasi yang dibuat orang akan membawa konsekuensi nyata. Thomas membedakan antara definfisi situasi yang dibuat secara spontan oleh individu, dan definisi situasi yang dibuat oleh masyarakat, yaitu ia melihat adanya persaingan antara kedua macam definisi situasi tersebut.
Hall mengemukakan bahwa dalam interaksi dijumpai aturan-aturan tertentu dalam hal penggunaan ruang. Dari penelitiannya hall menyimpulkan bahwa dakam situasi sosial orang cenderung menggunakan empat macam jarak, yakni jarak intim, jarak pribadi, jarak sosial, dan jarak publik.
Hall antara lain membahas pula aturan mengenai waktu. Hall mencatat bahwa dalam masyarakat berbeda dijumpai pengguanaan waktu secara berbeda karena adanya persepsi berbeda mengenai waktu.
Menurut Hall dalam interaksi kita tidak hanya memperhatikan apa yang dikatakan orang lain tetapijuga apa yang dilakukannya. Komunikasi nonverbal atau bahasa tubuh kita gunakan secara sadar maupun tidak untuk menyampaikan perasaan kita kepada orang lain. Studi sosiologis terhadap gerak tubuh dan isyarat tangan ini dinamakan kinesics.
Karp dan Yoels mengemukakan bahwa untuk dapat berinteraksi seseorang perlu mempunyai informasi mengenai orang yang berada di hadapannya. Manakala kita tidak mengetahui riwayat hidupnya dan/atau kebudayaannya maka interaksi sukar dilakukan. Sumber-sumber informasi yang disebutjan Karp dan Yoels adalah cirri fisik yang diwarisi sejak lahir seperti jenis kelamin, usia, dan ras serta penampilan – daya tarik fisik, bentuk tubuh, penampilan berbusana, dan percakapan.
Menurut Goffman dalam suatu perjumpaan masing-masing pihak membuat pernyataan dan memperoleh kesan. Ia membedakan dua macam pernyataan: pernyataan yang diberikan dan pernyataan yang dilepaskan. Menurutnya masing-masing pihak berusaha mendefinisikan situasi dengan jalan melakukan pengaturan kesan.
Knapp membahas berbagai tahap yang dapat dicapai dalam interaksi. Tahap-tahap interaksi tersebut terbagi dalam dua kelompok besar, yakni tahap-tahap yang mendekatkan peserta interaksi, dan tahap-tahap yang menjauhkan mereka.

BAB 5
TATANAN SOSIAL DAN PENGENDALIAN SOSIAL

Sosiologi makro menggunakan sudut pandang structural; menggunkan sudut pandang klasik Durkheim. Perumusan Durkheim menunjukkan bahwa pokok perhatian sosipologi ialah tatanan meso dan makro, karena fakta sosial mengacu institusi yang mengendalikan individu dalam masyarakat. Durkheim berpandangan bahwa sosiologi adalah ilmu masyarakat dan mempelajari institusi.
Humans mengaitkan struktur dengan perilaku sosial elementer dalam hubungan sosial sehari-hari. Lenski berbicara mengenai struktur masyarakat-masyarakat uang diarahkan oleh kecenderungan jangka panjang yang menandai sejarah. Di kala Talcott Parsons berbicara mengenai struktur ia berbicara mengenai saling keterkaitan antara institusi-institusi. Coleman melihat struktur sebagai pola hubungan antar manusia dan antar kelompok manusia.
Dalam membahas struktur sosial, dikenal dua konsep penting; status dan peranan.tipologi lain yang juga dipopulerkan Linton adalah pembagian status menjadi status yang diperoleh dan status yang diraih.
Merton memperkenalkan konsep perangkat peranan, yang didefinisikan sebagai pelengkap hubungan peranan yang dipunyai seseorang karena menduduki suatu status sosial tertentu. Konsep perngkat peranan ini menurut Merton berbeda dengan konsep peranan majemuk.
Durkheim mengemukakan bahwa sosiologi mempelajari institusi. Mengenai konsep institusi pun dijumpai berbagai definisi.

Dari berbagai definisi telah kita lihat bahwa sosiologi makro mempelajari masyarakat. Menurut Parsons masyarakat adalah suatu sistem sosial yang swasembada, melebihi masa hidup individu normal, dan merekrut anggota secara reproduksi biologis serta melakukan sosialisasi terhadap generasi berikutnya. Shills pun menekankan pada aspek pemenuhan kebutuhan sendiri yang dibaginya ke dalam tiga komponen: pengaturan diri, reproduksi sendiri, dan penciptaan diri.
Berger mendefinisikan pengendalian sosial sebagai berbagai cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkan anggota yang membangkang. Roucek mengemukakan bahwa pengendalian sosial adalah suatu istilah kolektif yng mengacu pada proses terencana maupun tidak melalui mana individu diajarkan, dibujuk ataupun dipaksa untuk menyesuaikan diri pada kebiasaan dan nilai hidup kelompok.
Menurut Berger cara terakhir dan tertua adalah paksaan fisik. Ia pun menyebutkan sejumlah mekanisme lain yang digunakan masyarakat untuk mengendalikan anggotanya, yaitu membujuk, memperolok-olokan, mendesas-desuskan, mempermalukan, dan mengucilkan.
Berger berpendapat bahwa setiap individu dalam masyarakat berada di pusat seperangkat lingkaran konsentris yangmasing-masing mewakili suatu sistem pengendalian sosial. Dikemukakannya pula bahwa hidup kita dikuasai juga oleh mereka yang telah meninggal selama berabad-abad.

BAB 6
KONFORMITAS DAN PENYIMPANGAN

Konsep konformitas didefinisikan Shepard sebagai bentuk interaksi yang di dalamnya seseorang berperilaku terhadap orang lain sesuai dengan harapan kelompok.
Pada umumnya kita cenderung bersifat konformis. Berbagai studi memperlihatkan bahwa manusia mudah dipengaruhi orang lain.salah satu di antaranya adalah studi Muzafer Sherif, yang membuktikan bahwa dalam situasi kelompok yang cenderung membentuk suatu norma sosial.
Vander Zander mendefiniskan penyimpangan perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi. Dalam tiap masyarakat kita selalu menjumpai adanya anggota yang menyimpang. Di samping penyimpangan (deviance) dan penyimpangan (deviant) kita menjumpai juga institusi menyimpang (deviant institution). menurut para ahli sosiologi penyimpangan bukan sesuatu yang melakat pada bentuk perilaku tertentu, melainkan diberi ciri penyimpangan melalui definisi sosial.
Dalam sosiologi dikenal berbagai teori sosiologi untuk menjelaskan mengapa penyimpangan terjadi. Menurut teori Differential Association (Sutherland) penyimpangan bersumber pada pergaulan yanf berbeda, dan melaui proses alih budaya seseorang mempelajari sub-kebudayaan menyimpang. Menurut teori labeling (Lemert) seseorang menjadi menyimpang karena proses pemberian julukan, cap, etiket, merk, oleh masyarakat kepadanya.

Merton mengidntifikasikan lima tipe adaptasi individu terhadap situasi tertentu; empat di antaranya merupakan perilaku menyimpang. Pada konformitas perilaku mengikuti tujuan masyarakat, dan mengikuti cara yang ditentukan masyarakat untuk mencapai tujuan tersebut; pada inovasi perilaku mengikuti tujuan masyarakat tetapi memakai cara yang dilarang masyarakat; pada ritualisme perilaku seseorang telah meninggalkan tujuan budaya namun masih berpegang pada cara-cara yang digariskan masyarakat; dan pada retreatism seseorang tidak mengikuti tujuan budaya dan juga tidak mengikuti cara untuk meraih tujuan budaya.
Menurut teori fungsi (Durkheim) kejahatan perlu bagi masyarakat, karena dengan adanya kejahatab maka moralitas dan hukum dapat berkembang secara normal. Teori konflik (Marx), di lain pihak, mengatakan bahwa apa yang merupakan perilaku menyimpang didefinisikan definisikan oleh kelompok-kelompok berkuasa dalam masyarakat untuk melindungi kepentingan mereka sendiri, dan bahwa hukum merupakan pencerminan keinginan kelas yang berkuasa.
Para ahli sosiologi membedakan berbagai tipe kejahatan. Kejahatan tanpa korban merupakan kejahatan yang tifak mengakibatkan penderitaan pada korban. Kejahatan yang diorganisasikan adalah komplotan berkesinambungan untuk memperoleh uang atau kekuasaan dengan jalan menghindari hukum melalui penyebaran rasa takut atau melalui korupsi. Kejahatan kerah putih mengacu kepada kejahatan yang dilakukan oleh orang terpandang atau orang berstatus tinggi dalam rangka pekerjaannya. Tindak pidana koorporasi (corporate crime) merupakan jenis kejahatan yang dilakukan atas nama organisasi formal dengan tujuan menaikkan keuntungan atau menekan kerugian.

BAB 7
KELOMPOK SOSIAL

Kelompok sosial sangat penting karena sebagian besar kegiatan manusia berlangsung di dalamnya. Tanpa kita sadari sejak lair himgga ajal kita menjadi anggota berbagai jenis kelompok.
Dengan menggunakan tiga criteria, yakni kesadaran jenis, hubungan satu sama lain, ikatan organisasi. Bierstedt membedakan empat jenis kelompok: kelompok asosiasi, keloompok sosial, kelompok kemasyarakatan, dan kelompok statistic.
Menurut Meton kelompok merupakan sekelompok orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola-pola yang telah mapan sedangkan kolektifitas merupakan orang-orang yang mempunyai rasa solidaritas karena berbagi nilai bersama dan yang telah memiliki rasa kewajiban moral umtuk menjalankan harapan peranan. Konsep lain yang diajukan Merton ialah konsep kategori sosial.
Durkheim mebedakanantara kelompok yang didasarkan pada solidairtas mekanis, dan kelompok yang didasarkan pada solidaritas organis. Solidaritas mekanis merupakan cirri yang menandai masyarakat yang sederhana, sedangkan solidaritas organis merupakan bentuk solidaritas yang mengikat masyarakat kompleks yang telah mengenal pembagian kerja yang rici dan diperastukan oleh kesalingtergantungan antar bagian.
Toennies mengadakan perbedaan antara dua jenis kelompok: Gemeinschaft dan Gesellschaft. Gemeinschaft merupakan kehidupan bersama yang intim, pribadi dan eksklusif; suatu keterikatan yang dibawa sejak lahir. Gesellschaft merupakan kehidupan publik, yang terdirir atas orang-orang yang kenetulan hadir bersama tetapi masing-masing tetap amndiri dan bersifat sementara dan semu.
Cooley memperkenalkan konsep kelompok primer. Sebagai lsejumlah ahli sosiologi menciptakan konsep kelompok sekunder, yakni suatu konsep yang tidak kita jumpai dalam karya Cooley.
Suatu kalidifikasi lain yaitu suatu pembedaan antara kelompok luar dan kelompok dalam, di dasarkan pada pemikiran Sumner. Sumner mengemukakan bahwa di kalangan anggota kelompok dalam dijumpai persahabatan, kerjasama, keteraturan, dan kedamaian sedangkan hubungan antara kelompok dalam dengan kelompok luar cenderung ditandai kebencian, permusuhan, perang, dan perampokan.
Merton mengamati bahwa kadang-kadang perilaku seseorang mengacu pada kelompok lain yang dinamakan kelompok acuan. Di kala seseorang berubah keanggotaan kelompok, ia sebelumnya dapat menjalani perubahan orientasi, yaitu suatu proses yang oleh Merton diberi nama sosialisasi antisiaporis.
Parsons memeperkenalkan perangkat variable pola. Menurutnya variable pola merupakan seperangkat dilemma universal yang dihadapi dan harus dipecahkan seorang pelaku dalam setiap situasi sosial.
Suatu klasifikasi yang digali Geertz dari masyarakat Jawa adalah pembedaan anara kaum abangan, santri, dan priyayi. Menurut Geertz pembagian masyarakat yang ditelitinya ke dalam tiga tipe budaya ni didasarkan atas perbedaan pandangan hidup di antara mereka.
Menurut Webber dalam masyarakat modern kita mejumpai suatu sistem jabatan yang dinamakan birokrasi. Organisasi birokrasi yang disebutkan Weber mengandung sejumlah prinsip. Prinsip-prinsip tersebut hanya dijumpai pada birokrasi yang oleh Weber disebut tipe ideal, yang tidak akan kita jumpai dalam masyarakat.
Suatu gejala yang menarik perhatian banyak ilmuan sosial adalah berkaitan antara kelompok formal dan kelompok informal. Dalam organisasi formal akan terbentuk berbagi kelompok informal. Nilai dan aturan kelompok informal dapat bertentangan dengan nilai dan aturan yang berlaku dalam organisasi formal.
BAB 8
STRATIFIKASI SOSIAL

Pembedaaan anggota masyarakat berdasarkan status dinamakan stratifikasi sosial. Berdasarkan status yang diperoleh dengan sendirinya, kita menjumpai adanya berbagai macam stratifikasi. Anggota masyarakat dibedakan pula berdasarkan sttus yang dirihnya, sehingga menghasilkan berbagai jenis stratifikasi lain.
Dalam sosiologi kita mengenal perbedaan antara stratifikasi tertutup dan stratifikasi terbuka. Keterbukaan suatu sistem stratifikasi diukur dari mudah-tidaknya dan sering-tidaknya seseorang yang mempunyai status tertentu memperoleh status dalam strata yang lebih tinggi.
Dalam sosiologi mobilitas sosial berarti perpindahan status dalam stratifikasi sosial. Mobilitas vertical mengacu pada mobilitas ke atas atau ke bawah dalam stratifikasi sosial. Ada pun apa yang dinamakan lateral mobility yang mengacu pada perpindahan geografis antara lingkungan setwmpat, kota, dan wilayah.
Di kalangan para ahli sosiologi kita menjumpai keanekaragaman dalam penetuan jumlah lapisan osial. Ada yang merasa cukup klasifikasi dalam dua lapisan, dan ada pula yang memebedakan antara tiga lapisan atau lebih.
Barber memperkenalkan beberapa konsep ynag mempertajam konsep stratifikasi. Salah satu di antaaranya ialah konsep rentang, yang mengacu pada peredaan antara kelas teratas dengan kelas terbawah. Konsep terkait lainnya iala konsep bentuk, yang mengacu pada proporsi orang-orang yang terletak di kelas-kelas sosial yang berlainan.

Menurut Marx, lahir dan berkembangnya kapitalisme dan industri nodern mengakibatkan terpecahnya masyarakat menjadi dua kelas yang saling bermusuhan, yaitu kelas borjuis dan kelas proleter. Marx meramalkan bahwa melalui suatu perjuangan kelas kaum proletar akan mendirikan suatu masyarakat tanpa kelas.
Pandangan Marx ini dikecam oleh banyak ilmuwan sosial. Kritik utama ditujukan pada diginakannya hanya satu dimensi, yaitu dimensi ekonomi, yaitu menetapkan stratifikasi sosial. Kritik lain ialah bahwa dalam kenyataan masyarakat industri mengenal lebih dari dua kelas.
Weber mengemukakan bahwa di saamping stratifikasi menurut dimensi ekonomi kita menjumpai pula stratifikasi menurut dimensi lain. Webwe memperkenalkan perbedaan antara konsep-konsep kelas, kelompok status, dan partai, yang merupakan dasar bagi pembedaannya antara tiga jenis stratifikasi sosial.
Pengaruh Weber Nampak dalam pandangan Peter Berger, yang mengartikan stratifikasi sebagai penjenjangan masyarakat menjadi hubungna atasan-bawahan atas dasar kekuasaan, kekayaan, dan kehormatan. Pengaruh weber Nampak pula dalam karya Jeffries dan Ransford yang dengan menggunakan ukuran kekuasaan, hirarki kelas, dan hirarki status. Suatu hal yang ditekankan Weber ialah kemungkinan adanya hubungan antara kedudukan menurut beberapa dimensi.
Pandangan Davis dan Moore yang dikenal sebagai penjelasan fungsionalis menekankan pada fungsi status-status dalam masyarkat yang dinilai meninjang kesinambungan masyarakat. Sejumlah ahli sosiologi lain melihat bahwa stratifikasi timbul karena adanya masyarakat berkembang pembagian kerja yang memungkinkan perbedaan kekayaan, kekuasaan dan prestise.
Adanya perbedaan prestise dalam masyarakat tercermin pada perbedaan gaya hidup. Dalam kaitan dengan perbedan atarkelas ini para ahli sosiologi seing berbicara mengenai symbol status.
Kedudukan dalam suatu kelas sosial tertentu mempunyai arti penting bagi seseorang. Perbedaan kelas sosial berkaitan dengan perbedaan fertilitas, harapan hidup bayi pada waktu lahir, kestabilan keluarga, kesehatan mental,perilaku seks, kehidupan beragama. Mode, dan sikap politik.
Dalam sosiologi digunakan beberapa pendekatan untuk mempelajari stratifikasi sosial seperti pendekatan objektif, pendekatan subjektif, dan pendekatan reputational.
Ada masyarakat yang berpandangan bahwa apa yang dapat diperoleh seorang anggota masyarakat tergantung pada kemampuannya. Masyarakat lebih menekankan asa yang menyatakan bahwa pemerataan berarti pemerataan pendapat.
Untuk mengurangi ketidaksamaan dalam masyarakat pemerintah berbagai negara menerapkan berbagai program. Beberapa masyarakat bukan berusaha mengurangi ketidaksamaan dalam masyarakat dengan jalan membatasi perbedaan antarindividu.

BAB 9
HUBUNGAN ANTAR KELOMPOK

Dalam pembahasan mengenai hubungan antarkelompok yang dimaksudkan dengan kelompok mencakup statistical group, societal group, dan associational group. Konsep kelompok di sinsi mencakup semua kelompok yang diklasifikasikan berdasarkan criteria cirri fisik, kebudayaan, ekonomi, dan perilaku. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelompok moralitas dapat dikaji dengan menggunakan dimensi sejarah, dimensi demografi, dimensi sikap, dimensi institusi, dimensi gerakan sosial, dan dimensi tipe utama hubungan antarkelompok. Di samping itu ada yang perlu diperhatikan, yaitu dimensi perilaku dan dimensi kolektif.
Suatu bentuk hubungan yang banyak disoroti ialah hubungan mayoritas-minoritas, dalam definisi Kinloch kelompok mayoritas ditandai adanya kelebihan kekuasaan; konsep mayoritas tidak dikaitkan dengan jumlah anggota kelompok. Ada pula ilmuwan sosial berpendapat bahwa konsep mayoritas didasarkan pada keunggulan jumlah anggota.
Redfield melihat bahwa konsep ras sebagai gejala sosial berlainan dengan konsep ras sebagai gejala biologis. Bagi Berghe ras berarti kelompok etnik diganti dengan istilah golongan etnik.
Rasisme didefinisikan sebagai suatu ideology yang didasarkan pada keyakinan bahwa cirri tertentu yang dibawa sejak lahir menandakan bahwa pemilik cirri tersebut lebih rendah sehingga mereka dapat didiskriminasi. Kita menjumpai pula ideology-ideologi lain yang jugaberusaha membenarkan diskriminasi terhadap kelompok lain seperti sitem ageisn. Apabila kita bicara tentang rasialisme kita berbicara mengenai praktik diskriminasi terhadap kelompok ras lain.
Ideologi rasisme yang menganggap bahwa orang Kulit Putih lebih unggul daripada orang kulit berwarna antara lain pernah dianut oleh Amerika Serikat dan hingga kini masih dianut di Republik Afrika Selatan. Menurut v.d.Berghe demokrasi di Amerika Serikat hingga awal Perang Dunia II dan di Afrika Selatan hingga kini merupakan apa yang dinamakanmya “Herrenvolk democracy”.
Menurut Noel stratifikasi etnik terjadi apabila terpenuhi tiga persyaratan yaitu: etnosentrisme, persaingan, dan perbedaan kekuasaan. Collins berpandangan bahwa satu-satunya faktor yang mengawali dan mendasari stratifikasi jenis kelamin ialah kekuatan fisik, sedangkan Parsons mengaitkan stratifilasi jenis kelamin dengan industrialisasi. Menurut Ransford kekhususan stratifikasi usia terletak pada kenyataan bahwa status dalam jenjang kekuasaan, pertise dan privilese berbentuk kurvilinear.
Banton mengemukakan bahwa kontak antara dua kelompok ras dapat diikuti proses akulturasi, dominasi, paternalisme, pluralisme, atau integrasi. Dalam klasifikasi Liberson dapat dibedakan antara pola dominasi kelompok pendatang aatas kelompok pribumi dan pola dominasi kelompok pribumi atas kelompok pendatang.
Dalam hubungan antarkelompok sering ditampilkan prasangka. Salah satu teori untuk menjelaskan prasangka ialah teori frustasi-agresi. Stereotip erat kaitannya dengan prasangka. Stereotip-stereotip dapat bersifat negatif maupun positif. Bettelheim dan Janowitz membedakan dua macam stereotip negatif yang saling bertentangan: stereotip superego dan stereotip id.
Satu bentuk perilaku yang banyak ditampilkan dalam hubungan antarkelompok ialah diskriminasi. Ransford membedakan antara diskriminasi individu dan diskriminasi institusi. Prasangka bukanlah prasyarat bagi perilaku diskriminasi, dan sebaliknya prasangka yang dianut seseorang oun tidak selalu membuahkan perilaku diskriminatif.
Menurut Banton, diskriminasi mewujudkan jarak sosial. Skala jarak sosial para ilmuwan sosial digunakan untuk mengukur jarak sosial satu kelompok dengan kelompok lain.
v.d.Berghe mengidentifikasikan tiga kebijaksanaan di negara-negara bagian Selatan Amerika untuk menegakkan keunggulan orang Kulit Putih, yaitu pencabutan hak pilih orang Kulit Hitam kebijaksanaan segregasi, dan teror terhadap orang Kulit Hitam, antara lain berupa intimidasi, penganiayaan, dan praktik pembunuhan oleh massa.
Di Indonesia pun dikenal berbagai kebijaksanaan yang mengatur hubingan antarkelompok. Di masa penjajahan penduduk dibagi dalam tiga kelompok: orang Eropa, orang Timur Asing, dan orang pribumi. Setelah kemerdekaan kita mengenal berbagai kebijaksanaan di bidang kebudayaan, politik, dan ekonomi yang mengatur hubungan antara kelompok pribumi dan kelompok Tionghoa. Kadang-kadang masyarakat menerapkan kebijaksanan reverse discrimination.
Hubungan antarkelompok sering berwujud perilaku kolektif. Tidak jarang gerakan antarkelompok berkembang menjadi huru-hara yang mengakibatkan perusakan harta benda atau bahkan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Hubungan antarkelompok pun sering melibatkan gerakan sosial, baik yang diprakarsai oleh pihak yang menginginkan perubahan maupun oleh mereka yang ingin mempertahankan keadaan yang ada.

BAB 10
INSTITUSI-INSTITUSI SOSIAL

Dalam sosiologi keluarga dikenal berbagai pembedaan antara keluarga bersisitem konsanguinal dan keluarga bersisitem konjugal, antara keluarga orientasi dan keluarga prokreasi, dan antara keluarga batih dan keluarga luas. Kita mengenal beberpa tipe keluarga luas, seperti joint family, dan keluarga luas virilokal.
Setiap masyarakat mengenal aturan mengenai siapa yang boleh dan tidak boleh dinikah. Salah satu di antaranya ialah larangan hubungan sumbang, yang melarang hubungan dengan keluarga yang sangat dekat.
Pada dasarnya kita mengenal dua jenis perkawinan:monogamy dan poligami. Poligami dibagi kembali ke dalam bentuk-bentuk perkawinana poligini, poliandri, dan perkawinan kelompok. Kita pun mengenal bentuk oligini khusus yang dinamakan poligini sororal. Aturan lain yang berlaku dalam hubungan perkawinan ialah eksogami dan endogamy.
Dalam hal penarikan garis keturunan kita mengenal aturan-aturan patrilineal, bilateral, matrilineal, keturunan rangkap, dan sistem ambilineal.
Pola menetap berbeda –beda, yaitu pola patrilokal, pola matri-patrilokal, pola matri local, pola patri-matrilokal, pola bilokal, pola neolokal, dan pola avunculokal.
Para ilmuwan sosial ahli sosiologi mengidentifikasikan berbagai fungsi keluaraga, yaitu fungsi-fungsi pengaturan seks, reproduksi, sosialisasi, afeksi, definisi status, perlindungan dan ekonomi.

Ikatan perkawinan kadang kala berakhir dalam perpisahan atau bahka perceraian. Peningkatan laju perceraian membawa peningkatan gaya hidup khas keluarga bercerai. Selain itu dalam berbagai masayarakat Barat kini telah berkembang gaya hidup menyimpang seperti hidup bersama di luar nikah, keluarga orang tua homoseks, dan hidup membujang.
Keluarga bukan hanya berfungsi untuk menyalurkan perasaan anggota keluarga namun sering menjadi ajang pelampiasan nafsu seperti kekerasan dalam keluarga.
Pokok bahasan utama dalam sosiologi pendidikan ialah institusi pendidikan formal. Para ahli sosiologi pendidikan membagi kelompok bahasan mereka menjadi sosiologi pendidikan dikaitkan dengan berbagai fungsi. Dalam kaitan ini ada ahli sosiologi yang membedakan antara fungsi manifest dan fungsi laten.
Agama merupakan suatu institusi penting yang mengatur kehidupan manusia. Menurut definisi Durkheim, agama ialah suatu sistem terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal-hal yang suci, dan kepercayaan dan praktik tersebut mempersatukan semua orang yang beriman ke dalam suatu komunitas moral yang dinamakan umat. Menurut Bellah di luar istitusi-intitusi agam kita mengenal adnay civil religion yaitu kepercayaan dan ritual di luar agama yang dijumpai pada institusi politik.
Dalam sosiologi agama dibedakan antara fungsi manifest dan fungsi laten. Ada ahli sosiologi yang mengemukakan bahwa agama mempunyai disfungsi juga.
Dalam banyak masyarakat perubahan sosial sering diiringi dengan segala sekularisme. Para ahli sosiologi mengemukakan bahwa proses ini sering kali memancing reaksi dari kalangan agama, yang dapat berbentuk perlawanan maupun penyesuaian diri.
Kesalingketerkaitan antara institusi agama dan institusi lain merupaka salah satu pokok kajian sosiologi agama. Kesalingketerkaitan yang dikaji antara lain mencakup institusi-institusi keluarga, politik, ekonomi, dan pendidikan.

Sosiologai ekonomi mempelajari kompleks kwgiatan yang melibatkan produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi barang dan jasa yang bersifat langka. Ahli sosiologi perekonomian mempelajari institusi yang terlibat dalam produksi dan distribusi barang dan jasa dalam masyarakat.
Dalam perkembangan sejarah kita menjumpai berbagai ideology ekonomi, yaitu merkentilisme, kapitalisme, dan sosialisme. Dalam masyarakat dijumpai berbagai bentuk organisasi yang terlibat dalam proses produksi dan distribusi barang dan jasa ini, seperti ologopoli dan perusahaan multinasional.
Sosiologi mempelajari institusi politik, yaitu perangkat aturan dan status yang mengkhususkan diri pada pelaksanaan kekuasaan dan wewenang.
Menurut Weber kekuasaan ialah kemungkinan untauk memaksakan kehendak terhadap perilaku orang-orang lain. Weber membedakan antara kekuasaan dan dominasi. Suatu dominasi memerluakan keabsahan. Weber membedakan antara tiga jenis dominasi: dominasi kharismatis, dominasi tradisional, dan dominasi legal-rasional. Sosiologi polotik mempelajari pula proses politik. Suatu masalah yang dikaji adalah faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya konflik dan konsensus.
Weber dan Michels memusatkan perhatian mereka pada hubungan antara birokrasi dan demokrasi. Keduanya berpandangan bahwa baik organisasi sosialis maupun kapitalis akan mempunyai kecenderungan untuk menjadi organisasi yang bersifat birokratis dan ologarkis.

BAB 11
STUDI PENDUDUK

Pertumbuhan demografi diawali pada abad 17 dan 18 dan sangat ditunjang oleh perkembangan sistem pencatatan dan sensus. Mengenai letak demografi dalam pohon ilmu dijumpai perbedaan pendapat; ada yang berpendapat bahwa demografi merupakan suatu ilmu sosial. Biasanya para ahli membedakan antara demografi formal yang melibatkan pengumpulan, analisa, dan penyajian data mengenai penduduk dan demografi sosial yang mempelajari kesalingketerkaitan antara variable-variabel sosiologi dan variable demografi.
Masalah besar, komposisi, distribusi, dan perubahan penduduk dipelajari para ahli demografi dengan mempelajari tingkat kelahiran, kematian, dan migrasi. Salah satu imdikator tingakat kelahiran ialah angka kelahiran kasar. Angka fertilitas merupakan indicator mengenai jumlah rata-rata anak yang secara nyata dilahirkan hidup oleh seorang wanita. Fecundity mengacu pada potensi biologis seorang wanita untuk melahirkan.
Konsep lain yang dipakai untuk mengukur pertumduhan penduduk ialah angka kematian kasar. Konsep yang berkaitan dengan laju kematian ialah angka kematian bayi. Satu indicator untuk mengukur panjang usia penduduk ialah konsep harapan hidup, dan konsep rentangan hidup.
Faktor dasar lain yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk ialah perpindahan atau migrasi. Bertalian dengan beranekaragamnya bentuk migrasi, maka biasanya diadakan pembedaan antara berabgai jenis migrasi, seperti antara migrasi intern dan migrasi internasional, dan antara migrsi ke luar dan migrasi ke dalam. Para ahli merinci dua jenis faktor penyebab migrasi, baik migrasi intern maupun migrasi internasional. Faktor-faktor tersebut dinamakan faktor pendorong dan faktor penarik.

Pertumbuhan penduduk dunia secara sangat cepat menumbuhkan keinginan kea rah tercapainya pengertian pertumbuhan penduduk. Situasi ini hanya dapat tercapai manakala jumlah orang yang meninggal dunia atau bermigrasi ke luar sama dengan jumlah orang yang dilahirkan atau bermigrasi ke dalam.
Komposisi penduduk mengacu pada susunan penduduk menurut criteria tertentu seperti jenis kelamin, usia, pekerjaan, suku bangsa, kebangsaan, pendidikan, tempat tinggal, dan pengahasilan. Dan yang sering digunakan untuk menggambarkan komposisi penduduk ialah usia dan jenis kelamin, yang biasanya disajikan secara grafis dalam apa yang dinamakan piramida penduduk. Bentuk suatu piramida penduduk dapat memberikan indikasi mengenai berbagai hal, seperti tingakat kelahiran, tingkat kematian, usaha median, dan angka beban tanggungan. Para ahli demografi membedakan antara lima bentuk atau model piramida penduduk.
Pada tahun 1798 Malthus menerbitkan suatu esei di mana iamengemukakan bahwa jumlah penduduk berkembang menurut deret ukur sedangkan jumlah bahan makanna hanya dapat ditingkatkan menurut deret hitung, sehingga perkembangan pendudul yang tak terbendung akan tidak dapat melewati daya dukung sumber daya alam karena adanya berbagai mekanisme pencegah yang disebutnya positive checks dan preventive checks. Untuk menghindarkna malapetaka yang akanmenurunkan kualitas hidup manusia Malthus mengusulkan diterapkannya pengendalian moral. Pada masa ini pendebatan mengenai jumlah penduduk dan penyediaan bahan makanan ini berkecamuk lagi.
Para ahli demografi membuat teori transisi demografi yang berusaha menjelaskan proses peruabahan demografi dari penduduk dengan angka kelahiran dan angka kematian tinggi ke angka kelahiran dan angka kematian rendah. Menurut teori ini suatu masyarakat yang mengalami proses industrialisasi akan melewati tiga tahap.
Kebijaksanaan prenatal merupakan suatu kebijaksanaan yang menunjang angka kelahiran tinggi. Kebijaksanaan antenatal, di lain pihak, merupakan kebijaksanaan yang bertujuan membatasi tinglat kelahiran.
BAB 12
PERILAKU KOLEKTIF DAN GERAKAN SOSIAL

Perilaku sejumlah warga masyarakat yang tidak berpedoman kepada institusi-institusi yang ada dalam sosiologi dinamkan perilaku kolektif, yaitu perilaku yang (1) dilakukan bersama oleh sejumlah orang. (2) tidak bersifat rutin, dan (3) merupakan tanggapan terhadapa rangsangan tertentu. Perilaku kolektif merupakan perilaku menyimpang yang merupakan tindakan bersama sejumlah orang dan merupakan perilaku yang tidak rutin. Perilaku kolektif dipicu oleh suatu rangsangan yang sama yang dapat terdiri atas senua peristiwa, benda, atau ide.
Perilaku kolektif selalu melibatkan perilaku sejumlah orang yang berkerumun. Menurut Le Bon istilah kerumunan berarti sekumpulan orang yang mempunyai cirri-ciri baru yang berbeda samasekali dengan cirri-ciri individu-individu yang membentuknya. Kumpulan orang menjadi kerumunan terorganisasi atau kerumunan psikologis, yakni yang menjadi suatu makhluk tunggal yang tunduk pada masing-masing anggotanya.
Blumer membuat suatu klasifikasi jenis-jenis kerumunan dengan membedakan antara kerumunan sambil lalu, kerumunan konvensional, kerumunan ekspresif, dan kerumunan bertindak. Di luar klasifikasi Blumer ini ada tipe lain, yaitu perilaku kerumunan yang berbentuk panik.
Le Bon menyebutkan tiga faktor penyebab terjadinya kerumunan. Faktor-faktor tersebut adalah : (1) karena kebersamaannya dengan orang lain individu memperoleh perasaan kekuatan luar biasa yangmendorongnya untuk tunduk pada dorongan naluri (2) dalam suatu kerumunan tiap perasaan dan tindakan bersifat menular, dan (3) dalam kerumunan individu mulai dipengaruhi, percaya, taat.
Karena Le Bon menekankan pada faktor penularan, maka toeinya serng dinamakan teori penularan. Turner dan Killian mengemukakan bahwa dalam kerumunan pun muncul aturan-aturan baru, sehingga teori mereka dinamakan emergen norm teory. Suatu teori lain ialah teori konvergensi; menurut teori ini perilaku kerumunan muncul dari sejumlah orang yang mempunyai dorongan, maksud, kebutuhan serupa.
Gerakan sosial merupakan perilaku kolektif yang ditandai kepentingan bersama dan tujuan jangka panjang, yaitu untuk merubah atuapun mempertahankan masyarakat atau istitusi yang ada di dalamnya. Ciri lain gerakan sosial adalah penggunaan cara-cara berbeda di luar institusi yang ada.
Dengan menggunakan criteria tipe perubahan yang dikhendaki dan besarnya perubahan yang diinginkan Aberle membedakan empat tipe gerakn sosial. Tipologi Aberle adalah sebagai berikut: alternative movement, redemptive movement, reformative movement, dan transformative movement. Komblum, di lain pihak, menggunakan tujuan yang hendak dicapai sebagai klasifikasi. Atas dasar kriteria ini Komblum membedakan antara revolutionary movement, revomist movement, conserfative movment, dan reactionary movement.
Menurut penjelasan yang mengaitkan gerakan sosial dengan deprivasi ekonomi dan sosial orang melibatkan diri dalam gerakan sosial karena menderita deprivasi. Beberapa orang ahli sosiologi kurang sependapat dengan penjelasan deprivasi semata-mata dan merumuskan penjelasan yang memakai konsep deprivasi relative, kesenjangna antara harapan masyarakat dengan keadaan nyata yang dihadapi. Ahli sosiologi lain berpendapat bahwa perubahan sosial memerlukan pengerahan sumber daya manusia maupun alam. Tanpa adanya pengerahan sumver daya suatu gerakan sosial tidak akan terjasdi, meskipun tingkat deprivasi tinggi.

BAB 13
PERUBAHAN SOSIAL

Pemikiran para tokoh sosiologi klasik mengenal perubahan sosial dapat digolongkan ke dalam beberapa pola, yaitu (1) pola linear, (2) pola siklus, dan (3) penggabungan antara kedua pola.
Berakhirnya Pernag Dunia II diikuti perubahan sosial besar di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Selatan di mana mayoritas masyarakat dunia hidup. Seagai akibatnya muncul berbagai teori mengenai perubahan-perubahan di negara-negara yang diberi berbagai julukan seperti “Masyarakat-masyarakat Duni ketiga”,”Negara-negara Terbelakang”, Negara-negara Sedang Berkembang”, atau”Negara-negara Selatan.”
Giddens mengemukakan bahwa proses peningkatan kesalingtergantungan masyarakat dunia yang dinamakannya globalisasi ditandai oleh kesenjangan besar antara kekayaan dan tingkat hidup masyarakat-masyarakat industri dan masyarakat-masyarakat Dunia Ketiga. Selain itu ia mencatat tumbuh dan berkembangnya negara-negara industri bsru, dan semakin meningkatnya komunikasi antarnegara sebagai dampak teknologi komunikasi yang semakin canggih.
Teori modernisasi menganggap bahwa negara-negara terbelakang akan menempuh jalan sama dengan negar industri maju di Barat sehingga kemudian akan menjadi negara berkembang pula melalui proses modernisasi. Meurut Teori Ketergantungan yang didasarkan pada pengalaman negara-negara Amerika Lstin negara-negara industri menduduki posisi domonan dan mengalami perkembangan, sedangkan negara-negara Dunia Ketiga yang mengalami kolonialisme dan neo-kolonialisme dan secara ekonomiss tergantung padanya menjadi semakin terbelakang.

Menurut Teori Sistem Dunia perekonomian kapitalis dunia kini tersusun atas tiga jenjang : negara-negara inti yang berkembang pesat dan mendominasi sistem dunia sehingga mampu memanfaatkan sunber daya negara kain untuk kepentingan mereka sendiri, negara-negara semi-peniferi yang secara ekonomis tidak berkembang, dan negara-negara periferi yang melalui kolonisasi ditarik ke dalam sistem dunia. Kesenjangan antara negara-negara inti dengan negara-megara lain sangat lebar sehingga tidak mungkin tersusul.
Menurut Boeke dalam masyarakat Timur kapitalisme bersifat merusak, ikatan-ikatan komunitas melemah, dan taraf hidup masyarakat menurun, karena telah mengakibatkan terjadinya ekonomi drastis. Menurut konsep masyarakat majemuk dari Furnivall, masyarakat Indonesia terdiri atas sejumlah tatanan sosial yang hidup berdampingan tetapi tidak berbaur namun saling melekat laksana kembar Siam dan akan hancur bilamana dipisahkan. Menurut Geerz kontak masyarakat pedesaan di Jawa dengan kapitalisme Barat menghasilkan peningkatan jumlah penduduk pedesaan yang kemudian diserap sawah melalui proses imvolusi pertanian, yaitu suatu kerumitan berlebihan yang semakin rinci yang memungkinkan tiap orang tetap menerima bagian dari panen meskipun bagiannya memang menjadi semakin mengecil. Menurut Amstrong dan McGee konsep involusi perkotaan terkait dengan sistem pasar di daerah perkotaan Dunia Ketiga yang senantiasa mampu menyerap tenaga kerja, sedangkan Evers lebih mengaitkan konsep involusi dengan perubahan struktural di daerah perkotaan.

BAB 14
METODE SOSIOLOGI

Dalam usaha mengumpulkan data yang dapat menghasilkan temuan-temuan baru, para ahli sosiologi memperhatikan tahap-tahap penelitian, yang saling berkaitan secara erat. Sebelum melakukan suatu penelitian terlebih dahulu harus dilakukan peninjauan terhadap bahan-bahan pustaka untuk mengetahui penemuan-penemuan sebelumnya.
Setelah merumuskan tujuan penelitian, peneliti harus menentukan metode pengumpulan data yang akan digunakannya. Dalam ilmu-ilmu sosial dikenal bebagai metode pengumpulan data, seperti metode survai serta beberapa metode nonsurvai seperti metode riwayat hidup, studi kasus, analisa isi, kajian data yang telah dilumpulkan oleh pihak lain, dan eksperimen.
Dalam penelitian survai hal-hal yang diteliti dituangkan dalam suatu daftar pertanyaan. Teknik survai mengandung persamaan dengan sensus; namun pada sensus yang menjadi subyek wawancara adalah seluruh populasi sedangkan dalam teknik survai daftar pertanyaan diajukan pada sejumlah subyek penelitian yang dianggap mewakili populasi. Pada subyek penelitian survai merupakan contoh suatu populasi. Contoh dipilih secara acak atau dengan teknik penarikan sontoh lain.
Pengamatan merupakan metode penelitian di mana peneliti mengamat secara lansung perilaku para subyek penelitiannya dan merekam perilaku yang wajar, asli, tidak dibuat-buat, spontan dalam kurun waktu relative lama sehingga terkumpul data yang bersifat mendalam dan rinci. Dalam sosiologi dibedakan antara penelitian di mana pengamat (1) aepenuhnya terlibat, (2) berperan sebagai pengamat, (3) berperan sebagai peserta, (4) sepenuhnya melakukan pengamatan tanpa keterlibatan apapun dengan subyek penelitian.
Salah satu kelebihan pengamatan terlibat bila dibandingkan dengan survai ialah bahwa pengamatan terlibat lebih memungkinkan terjalinnya rapport antara peneliti dengan subyek penelitiannya.
Dalam penelitian sosial sering dibedakan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif. Penelitian yang memakai metode survai dan sensus menggunakan pendekatan kuantitatif, sedangkan penelitian kualitatif merupakan penelitian yang mengutamakan segi kualitas data dengan menggunakan teknik pengamatan dan wawancara mendalam.
Dalam pencarian maupun pengamatan ilmu seorang ilmuwan harus menghormati aturan etika, seperti keikutsertaan secara sukarela, tidak membawa cedera bagi subyek penelitian, asas anonimitas dan kerahasiaan, tidak memberikan keterangan yang keliru, dan menyajikan data penelitian secara jujur.
Analisa data kuantitatif dinamakan analisa univariat bila yang dipelajari hanya satu gejala, bivariat bila yang ingin diketahui ialah hubungan antara dua gejala, dan multivariate bila yang diteliti ialah hubungan antara lebih dari dua gejala. Analisa data univariat hanya memungkinkan dilakukannya deskripsi, sedangkan analisa data bivariat dan multivariate memungkinkan peneliti untuk melakukan pula penjelasan sebab-akibat.
Dalam analisa data kualitatif peneliti mempelajari catatan penelitian lapangan, yang secara rinci memuat hasil wawancara mendalam dan hasil pengamatnnya. Analisa data kualitatif berlangsung terus-menerus semenjal peneliti mulai memasuki lapangan dan arah penelitian dapat berubah sesuai dengan hasil analisa di lapangan.

BAB 15
TEORI SOSIOLOGI

Untuk menjelaskan proses-proses perubahan mendasar dan berjangka panjamg di Eropa seperti industrialisasi, urbanisasi, rasionalisasi para ahli sosiologi berteori. Teori merupakan suatu kegiatan yang bertujuan menjelaskan sebab-sebab terjadinya suatu gejala.
Imti penjelasan ilmiah ialah pencarian faktor-faktor penyebab. Dalam proses ini dibedakan antara faktor yang harus dijelaskan (explanandum) dan faktor penyebab (explanans), atau antara konsep variable tergantung dan variable bebas. Di samping penjelasan kausal dikenal pula penjelasan fungsional.
Teori menjawab pertanyaan : “Mengapa?” Pertanyaan yang hendak dijawab teori sosiologi ialah mengapa dan bagaimana masyarakat dimungkinkan, dan dikenal dengan nama the problem of order. Karena sosiologi mempunyai banyak teori dan banyak paradigm maka sosiologi dinamakan suatu ilmu paradigma majemuk.
Analogi organis merupakan suatu cara memandang masyarakat yang banyak kita jumpai di kalangan penganut teori fungsionalisme dan mulai dijumpai pada karya Comte. Spencer mengemukakan bahwa dalam proses peningkatan kompleksitas dan diferensisasi masyarakat terjadi pula diferensiasi fungsi. Durkheim secara rinci membahas konsep fungsi dan menggunakannya dalam analisa terhadap pokok pembahasannya. Radcliffe-Brown mengemukakan bahwa fungsi merupakan sumbangan suatu kegiatan terhadap kesinambungan struktur sosial. Malinowski terkenal karena pandangannya bahwa setiap unsur kebudayaan mempunyai fungsi penting.

Parsons merupakan tokoh sosiologi modern yang mengembangkan analisa fungsional dan secara sangat rinci menggunakannya dalam karya-karyanya. Merton melakukan rincian lebih lanjut dalam analisa fungsional dengan memperkenalkan konsep-konsep fungsi, disfungsi, fungsi laten, dan fungsi manifest.
Sumbangan Marx kepada sosiologi terletak pada teorinya mengenai kelas. Weber dianggap pula sebagai penganut teori konflik. Dahrendorf melihat bahwa struktur masyarakat industri telah mengalami perubahan besar semenjak zamannya Marx sehingga menolak sebagian teori Marx. Coser terkenal karena pandangannya bahwa konflik mempunyai fungsi positif bagi masyarakat.
Teori-teori pertukaran awal mula-mula dikembangkan oleh para ahli antropologi Inggris seperti Malinowski, dan diperhalus oleh ahli antropologi Perancis seperti Mauss dan Levi Strauss. Humans berpendapat bahwa pertukaran yang berulang-ulang mendasari hubungan sosial yang berkesinambungan antara orang-orang tertentu. Teori Blau berusaha menjembatani dua jenjang analisa sosiologi, dan membatasi diri pada interaksi yang melibatkan asas pertukaran dengan mengakui bahwa tidak semua interaksi melibatkan pertukaran.
Teori-teori yang mengkhususkan diri pada interaksi sosial mula-mula bersumber pada pemikiran para tokoh sosiologi klasik dari Eropa seperti Simmel dan Weber. Simmel berpandangan bahwa muncul dan berkembangnya kepribadian seseorang tergantung pada jaringan hubungan sosial yang dimilikinya. Weber memperkenalkan interaksionisme dengan menyatakan bahwa sosiologi ialah ilmu yang berusaha memahami tindakan sosial.
Tokoh-tokoh sosiologi modern yng merintis pemikiran dasar mengenai interaksionisme ialah James, cooley, Dewey, Mead, blumer, Goffman dan Berger. James terkenal karena pendapatnya bahwa perasaan seseorang mengenai dirinya sendiri muncul dari interaksinya dengan orang lain. Cooley terkenal karena antara lain mengembangkan konsep looking glass self yang intinya ialah bahwa seseorang mengevaluasi dirinya sendiri atas dasar sikap dan perilaku orang lain terhadapnya.
Menurut Dewey pikiran seseorang berkemabang dalam rangka usahanya dengan orang lain. Sumbangan pikiran penting Mead antara lain terletak pada pandangannya bahwa diri seseorang berkembang melalui tahap-tahap tertentu, dan bahwa dalam konsep perkembangan diri ini seseorang belajar mengambil peran orang lain. Thomas memperkenalkan konsep definisi situasi dalam sosiologi interaksi, yang intinya ialah bahwa sebelum bertindak untuk menanggapi rangsangan dari luar, individu selalu memberi makna pada situasi yang dihadapinya. Blumer menjabarkan lebih lanjut pemikiran interaksionalisme simbolis. Dalam teori Goffman individu digambarkan sebagai pelaku yang melalui interaksi secara aktif mempengaruhi individu lain. Peter Berger membuat suatu kerangka pemikiran untuk memperlihatkan hubungan antara individu dan masyarakat.

11 Responses

  1. gw copy U/ tugas yaaaaaa, n met kenal

  2. mf y,,,,,
    rin copy y wat tugas akhir semester,,,,,,,
    lam kenal,,,,,,,

  3. assalamu’alaikum
    bagaimana pendapat anda mengenai ilmu sosiologi yang cenderung membuat orang berpikiran ke arah “kiri” mengerti kan maksud saya??
    soalnya saya pernah ditanya oleh mahasiswa sosiologi dari univ lain yang mengatakan bahwa sosiologi itu obyektif dan non etis jadi jang selalu di masuki oleh paham religius dan moralitas….
    bagaimana menurut anda??
    terus terang saya juga agak kebingungan dalam menjawab..
    terimakasih
    salam knal dari saya…

  4. salam, saya nak tanya, apakah peranan ahli sosiologi dalam pembangunan negara?

  5. ass..
    tolong angkat satu kasus tentng khidupan masyarakat yg ada kaitanx dgn konsep2 sosiologi…

  6. makasih yaww bwt ilmunya!!!!!!!!!!!!

  7. fto kamanto yang mna si ..????
    aku ada tugas..ga tau yg mna tokoh sosiolog tsb

  8. Thankz berat…. ini tugas yg akhirnya z dapatkan di detik2 terahir pengumpualan… He…he….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: